Jumat, 16 November 2018
Usaha kecil tak selamanya kecil
Rabu, 24 Oktober 2018
Aku dan Kesendirianku
tidak ada alasan khusus sih untuk nulis kali ini, hanya saja baru selesai buat tugas di laptop. iseng buka blog ternyata udah lama di anggurin. karna kesibukan - kesibukan beberapa waktu lalu, entah karna emang bener - bener sibuk atau sok sibuk, ah sudah lah malas mikir. intinya sibuk. sangking sibuknya nggak ada waktu buat pacaran. hahaha
what? Pacar? okey, let me talking about it. sering kali di isengin temen dengan panggilan jomblo. yeah jomblo 5 tahun itu bukan waktu yang lama, buktinya nggak sadar udah 5 tahun aja. pernah sih dalam jangka waktu itu mencoba membuka hati menerima orang2 baru, but, this doesn't work. dalam kurun 3 bulan hubungan itu berakhir gitu aja. yeah, aku cukup nyaman dengan kesendiran ini. jadi ketika orang - orang baru mencoba datang aku harus mennyesuaikan diri dan aku cukup kesulitan dengan hal ini. bagaimana tidak aku tak terbiasa dengan sapaan selamat pagi, jangan lupa sarapan ya, ntar bunyi lagi jangan lupa sholat sama makan siangnya. eh, bentar - bentar bunyi lagi met sore jangan lupa magrib terus makan malam. :'). aku nggak ngerti lagi kenapa orang pacaran harus saling ngingatin kek dokter nyuruh pasien minum obat 3x1 sehari. padahal kalo nggak punya pacar mereka nggak lupa juga makannya. tapi ya balik lagi, begitulah konsekwensinya orang yang melabelkan diri mereka pacaran, ada aturan - aturan yang di buat dan harus di patuhi dari kedua belah pihak.
ini terdengar seperti pembelaaan,karna udah jomblo karatan. haaha, bisa jadi ini kalimat pembelaan karna emang nggak ada yang mau. :D, sedih Uuyy, namun percayalah ini hanya alasan kesekian dari alasan mendasar kenapa memilih sendiri. tak penting sendiri atau berdua, yang penting itu Bahagia, karna level tertinggi kesuksesan itu kebahagian. buat apa berdua kalau ujung - ujungnya tak bersama. semua ada waktunya, tunggu aja. percayalah Allah tak mempercepatkan sesuatu kecuali itu baik buat mu.
menyenangkan memang ketika ada seseorang yang mampu mengertikan kita, berbagi keluh kesah, mencari solusi setiap masalah. hal - hal yang biasanya di lakukan sendiri namun di lakukan berdua akan terasa indah. tapi balik lagi ke individunya, ada orang yang lebih suka melakukan banyak hal sendiri. sendiri bukan lah masalah bagi mereka yang terbiasa akan kesendirian. karna bagi ku sendiri tak harus sendirian, dan berdua tak harus pacaran. pecayalah apapun yang menjadi milikmu cepat atau lambat akan tetap menjadi milik mu, dan yang bukan milik mu pun pada akhirnya tak akan jadi milik mu. so don't be afraid.
sembari menunggu yang pasti, udah saatnya juga kita buat belajar entah belajar menghadari kehidupan kedepannya, atau pun kehidupan selanjutnya. because life is a prosess learning never ending. karna ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar pacaran.
biar ku nikmati waktu sendiri ku, sampai saatnya nanti ku nikmati waktu kita.
The greatest lesson you can teach yourself is to be patient.
be patient when you're happy because happiness ends, and be patient when you're sad, because sadness too ends.
nothing is constant.
everthing is temporary, except Allah.
The Eternal, The Everlasting.
#PNf
berantakan malas ngedit.
Rabu, 12 September 2018
Body shaming sebagai basa basi obrolan
Untuk siapa pun di luar sana yang hobby mengbody shaming orang lain Please STOP it.
Sering kali kita berbasa basi dengan orang yang baru kita temui dengan ngebahas bentuk tubuh orang lain, entah itu badannya gemukan, kurusan, kulitnya hitam, rambutnya keriting apalah yang tak cukup penting sebenarnya buat di bahas. Ini adalah kebiasaan buruk yang udah terjadi lama di sosial kita. Tapi banyak juga orang yang nggak sadar dampak dari ini semua. Harusnya kita sadar bukan kapasitas kita untuk mengomentari orang lain. Banyak hal bermanfaat lain yang bisa di buat sebagai bahan pembukaan percakapan mengapa harus memilih ngebahas fisik.
Sering kali aku mengalaminya, contoh kecilnya adalah waktu aku sama adek2 bertemu dengan orang yang mendewakan body shaming ini sebagai bentuk basa basi yang menurut mereka pas sebagai awal pembicaraan. Kalian ber3 Kaka adek ya, iya. Kok besaran adeknya lagi. Kakak2nya kecil badannya. Beda sendiri ya dia.
Singkat memang tapi tanpa mereka sadari itu bisa aja melukai perasaan adek aku ini. Yah walau pun dia cuma senyum bukan berarti dia nggak sedih, bukan berarti dia nerima2 aja. Siapa yang tau di dalam hatinya dia menangis, atau pas tidur dia kebawa mimpi terus berefek ke hal2 negatif lain.
Buat siapa pun itu please stop do it. Satu hal yang harus kalian tau, tanpa kalian sadari atau tidak membahas bentuk fisik orang lain tidak selucu itu. Udah saat nya kita membuang kebiasaan buruk itu.
Kalau kata kak gitasav, kenapa kita harus membiasakan budaya yang jelas2 buruk? Yang tidak ada sama sekali sisi baiknya dari ngomongin fisik orang. Selain bisa buat orang jadi insecure. Kenapa harus bring up fisik padahal gak semua orang peduli dengan how they actually look.
Kenapa kita terobsesi untuk merendahkan orang lain dengan mencari2 kekurangan orang lain.
Mungkin yang baca ini bakalan berfikir aku berlebihan, atau gak Nerima keritikan atau gimana. Untuk masalah fisik aku tak bisa mentoleransi apapun.
Udah saatnya kita decide supaya negara kita maju, kita bantu pemerintah di mulai dengan mentality kita yang harus di rubah.
Sebisa mungkin aku berusaha untuk speak up masalah ini. Yeah sebagai usaha kecil menghentikan kebiasaan2 buruk orang kita. Berhentilah mewajarkan hal2 yang tidak wajar.
Terakhir yang mau aku bilang
" Ukuran tubuh dan paras wajah bukanlah ukuran bagaimana kalian menilai kepribadian orang lain.
#source
Gitasav
Winda carmelita
#Puteri Nurfateha
Jumat, 25 Mei 2018
10 Tahun sejak meninggalkan Rumah
20 tahun sudah usia berlalu, dengan cerita yang semberaut. Tak banyak kenangan yang kuingat. Tapi dapat ku pastikan masa kecil ku sangatlah indah. Dulu tepat 10 tahun yang lalu aku menginggalkan rumah, coba kalian bayangkan anak kecil usia 10 tahun di tuntut untuk meninggalkan keluarga, ninggalin teman semata2 buat nuntut ilmu. Seumur itu tak ada yang benar2 bisa aku lakukan jangan kan cara nyuci baju nyuci piring aja aku masih nggak bersih, jangankan nyisir rambut pake bedak aja masih comot. Aku memang benar2 payah dalam urusan menyurus diri kala itu. Entah kenapa saat tamat SD aku menurut aja waktu di suruh merantau. Sebenarnya aku tak punya pilihat buat membantah. Bermodal ilmu dan berbekal seadanya aku pergi mondok. Di sini semuanya terasa asing bagiku, aku yang biasa sarapan enak di rumah, di sini aku harus belajar makan makanan seadanya dan cukup sederhana. Di rumah yang biasanya lapar tinggal makan disini aku harus ikut jadwal waktunya makan. Aku harus pastikan baju sekolah udah tercuci dan di setrika, di rumah aku nggak pernah ngurus itu semua, maau sekolah tinggal ambil di lemari. saat itu aku kesal aku kecewa, aku benar2 merasa tersiksa disini , aku merasa orang tuaku tak sayang pada ku saat itu. Aku sengaja di asingkan merasakan semua penderitan itu. Aku memberontak pada diri sendiri, saat itu aku ibarat kuda yang di ikat lehernya kemudian di kendarai sesuka hati. Disinilah semuanya di mulai. Nggak ada siapa2 bener2 sendri. Ayah sama ibu datang jenguk 2-3 bulan sekali. Pulang kampung hanya setahun 2 x. Libur semester dan idul fitri selebihnya nggak ada pulang2. Bertahun2 ku jalani rutinitas ini bergelora rasa rindu yang tak bisa di ucapkan aku belajar untuk jadi orang yang tegar dan mandiri. Setelah 3 tahun berlalu sekarang umur ku 13 tahun banyak hal yang telah ku pelajari di umur segini.
Selesai SMP kini aku melanjutkan SMA, aku kira setelah perantaaun ini dengan b ilmu yang ku dapat dalam kurun waktu 3 tahun itu aku diizinkan pulang dan melanjutkan sekolah di kampung, nyatanya lagi2 aku di paksa untuk merantau. Sejauh dan sesanggup yang kubisa. Yeah sebagai seorang anak apalagi yang bisa di lakukan selain nurut dan patuh pada orang tua kala itu ayah mengusulkan untuk melanjutkan di salah satu Sekolah di PKU. Kota yang waktu itu tak pernah terpikirkan olehku bakal berada disitu untuk anak yang baru berusia 13 tahun. Tanpa orang tua dan keluarga. Setelah melalui tes ternyata aku nggak lulus, aku nggak sedih karna aku emmang nggak mau waktu itu (Alhamdulillah Allah mendengarkan do'aku).
Setelah berdiskusi dengan ayah akhirnya aku masuk salah satu sekolah swasta di Dumai, kalau ada yang nanya kenapa nggak masuk negeri karna sekolah negeri udah tutup. Waktu aku daftar di pku waktu itu. Yeah nggak jauh beda dengan 3 tahun sebelumnya lagi2 apa2 aku kerjakan sendiri. Hal yang jauh lebih miris dari sebelumnya adalh dari mulai daftar sekolah sampai hari perpisahan ayah sama ibu nggak pernah sekali pun kesekolah untum urusan apapun.
Dan sekarang 4 tahun kuliah aku udah nggak kaget lagi dengan hal2 baru. Kalau kalian tanya R.I.N.D.U tidak? Rindu sudah menjadi separuh bagian hidup ku. Saat aku meninggalkan rumah kami sudah akrab dari situ. Tak terhitung entah berapa ribu hari yang ku jalani jauh dari keluarga, entah berapa banyak hari spesial yang ku lewati tanpa mereka, entah berapa banyak puasa pertama tak kami sambut sekeluarga. Namun hal ini tak lantas membuat aku lupa pada mereka justru ini menjadi kan aku untuk selalu ingat seberapa berharga nya merka dalam hidup ku jauh tak lantas membuat kami saling melupakan justru sebaliknya kami saling mengingat dalam doa.
Mungkin akan lebih banyak tahun yang akan aku lalui 10 tahun 11 tahun 15 tahun bahkan 20 tahun. Tapi bagiku hidup ku tak ubahnya seperti 10 tahun yang lalu saat langkah pertama belum ku ayunkan. Rantaaun ini mengajarkan aku arti seberapa jauh pun kamu pergi, rumah akan selalu jadi tempat yang ingin kamu tuju, karna disanalah surga mu. :)
Kamis, 29 Maret 2018
Namaku Puteri Nurfateha
Nama adalah hak anak atas orangtuanya. Setiap orang tua harus memberi nama anak2nya dengan baik yang terselip harapan di dalamnya. Karna nama adalah doa.
Puteri Nurfateha itulah nama ku. Orang2 memanggil ku puteri, puput, kakak (karna anak pertama) fateha, teha. It's okey. Selagi mereka meanggil dalam konteks itu. Aku akan selalu menjawab (kalau dengar sih) 😝😝
Banyak yang mengatakan, ‘Apalah arti sebuah nama’. Mereka menganggap bahwa nama hanyalah sebutir identitas dari seseorang sehingga pemilihan nama untuk buah hatinya pun dianggap tidak terlalu penting. Namun ternyata nama memiliki pengaruh yang sangat luar biasa besar terhadap kehidupan seseorang. Nama seperti sebuah kartu nama, yang memperkenalkan dan mengekspresikan karakter kita. Suara dan arti sebuah nama memiliki pengaruh langsung pada perilaku dan penilaian orang lain kepada kita.”
sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya sebagai berikut.
“Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak kalian, maka baguskanlah nama-nama kalian.” (HR. Muslim).
Alhamdulillah aku adalah salah satu anak yang beruntung memiliki nama yang indah.
Puteri nurfateha
Puteri : dengan nama puteri orang tua ku berharap kelak anak perempuan mereka bisa hidup makmur dan mulia bagai anak raja, cantik dan anggun (walaupun agak meleset) 😭😭 layaknya anak bangsawan. (cantik akhlak dan budi pekerti)
Nur : yang dalam bahasa arab di artikan *Cahaya* dan di sebutkan dalam Al-Quran sebanyak 43 x (MasyaAllah) harapan orang tuaku yang tersirat di dalamnya adalah agar aku menjadi wanita yang bercahaya terang di tengah kegelapan.
Fateha : dari surat Al-Fatihah (ini juga nggak tau kenapa i jadi e, mungkin orang dulu cepat2 nulisnya jadi huruf i nya bengkok jadi ee) 😅😅
Yang menjadi surat pembukan dalam Al-quran (karna aku anak pertama) banyak keistimewaan dalam surat Al fatihah di sebutkan oleh Allah Assabul Matsani ( 7 Ayat yang di ulang) dan Alfatihah adalah surat yang menjadi percakapan antara Allah dan umatnya.
Rasullullah juga mengatakan Alfatihatu lima quria lahu (maksudnya jika punya suatu hajat apapun) bisa menggunakan wasilah surat Al-fatihah. Harapan orang tua ku adalah sebagai anak pertama harus mampu mengayomi adek2, menjadi orang yang berguna bagi sesama.
Nama ku adalah Puteri Nurfateha Rais arti keseluruhanya Wanita Cahaya Pembukaan.
Semoga aku menjadi manusia sesuai harapan nama ku.
Barakallah ❤💙💚💛